“Dari Ruang Organisasi Kampus
Menuju Panggung Google:
Kisah Juni, Mahasiswi UPI Y.A.I”
JAKARTA – Banyak yang mengira bahwa untuk menembus program
prestisius skala global sekelas Google Ambassador, seseorang hanya perlu
unggul di atas kertas atau memiliki nilai akademis yang sempurna. Namun, Juni,
mahasiswi Universitas Persada Indonesia Y.A.I (UPI Y.A.I), mematahkan stereotip
tersebut. Kunci suksesnya mendunia justru berakar dari keaktifannya di dalam
organisasi kampus.
Terpilihnya Juni Sri Rezeki Situmorang dalam program
global besutan Google ini menjadi bukti nyata bahwa organisasi kemahasiswaan
bukan sekadar kegiatan sampingan, melainkan sebuah kawah candradimuka yang
mampu melahirkan agen perubahan di bidang teknologi dan inovasi digital.
Organisasi Kampus: Investasi Skill
Termahal
Saat berbagi cerita mengenai
proses seleksi yang ketat, Juni menekankan bahwa pengalaman berorganisasi di
UPI Y.A.I adalah pembeda utama yang membuatnya dilirik oleh panel seleksi
internasional.
"Kemampuan berkomunikasi dan
berpikir kritis adalah skill utama yang paling membantu aku lolos. Dan semua
itu aku asah lewat organisasi. Pengalaman tersebut menjadi nilai tambah yang
besar karena membuktikan bahwa aku adalah mahasiswi yang aktif dan
adaptif," jelas Junis.
Bagi Juni, ruang kelas
memberikan ilmu teori, namun organisasi kampuslah yang memberikan ruang ujian
yang sesungguhnya. Di sanalah kapasitas dirinya dibentuk untuk siap bersaing di
tingkat global.
Menemukan Karakter di UPI Y.A.I
Ketika menengok kembali
perjalanannya di UPI Y.A.I, momen-momen yang paling melekat di hati Juni bukanlah saat-saat tenang, melainkan dinamika seru yang ia lalui bersama
rekan-rekan organisasinya.
"Pengalaman paling berkesan
selama kuliah di UPI Y.A.I adalah saat terlibat langsung dalam organisasi
mahasiswa. Di situ aku belajar banyak hal yang tidak ada di buku teks: mulai
dari seni memimpin (leadership), memecahkan masalah pelik (problem solving),
hingga bagaimana berkolaborasi dengan berbagai karakter orang yang
berbeda," kenang Junis dengan antusias.
Pengalaman menghadapi tantangan
organisasi inilah yang membentuk mentalitas siap pakai, membuat Juni tidak
canggung ketika harus berhadapan dengan standar seleksi global.
Ekosistem Suportif yang
Melahirkan Pemimpin
Keberanian Juni untuk melangkah
ke luar dari zona nyaman juga tidak lepas dari atmosfer UPI Y.A.I yang sangat
mendukung iklim berorganisasi. Pihak kampus, para dosen, hingga sesama
mahasiswa menciptakan ekosistem yang mendorong setiap individu untuk tumbuh.
"Aku mendapat dukungan luar
biasa dari dosen dan teman-teman, baik berupa motivasi maupun dorongan moral
agar aku terus berkembang. Lingkungan kampus yang suportif dan menghargai
kegiatan kemahasiswaan seperti ini sangat membantu aku untuk berani mencoba
hal-hal baru," ungkapnya tulus.
Menuju Jejaring Global
Kini, berbekal pengalaman
organisasi dari UPI Y.A.I, Juni siap melangkah lebih jauh sebagai Google
Ambassador. Peluang ini tidak hanya meningkatkan kompetensi individunya,
tetapi juga membuka lebar pintu jejaring profesional, pengembangan karier,
hingga kolaborasi internasional yang berdampak luas.A
Kisah Juni adalah pesan kuat
bagi seluruh mahasiswa UPI Y.A.I: "Jangan ragu untuk masuk dan aktif di
organisasi kampus. Karena dari ruang-ruang rapat mahasiswa yang sederhana
itulah, langkah pertama menuju panggung inovasi dunia dimulai."

English