Yayasan Administrasi Indonesia

Proceeding Seminar Infrastruktur 2010

PERENCANAAN KOTA YANG BERKELANJUTAN: KEBERADAAN RUANG TERBUKA HIJAU SEBAGAI ASPEK NILAI EKONOMI  LINGKUNGAN

 

 Dwi Dinariana1,Siti Sujatini2, Suparti A.S3,Hary Agus R4

 

1Arsitektur; Fakultas Tekonologi dan Desain, Universitas Persada Indonesia YAI Kampus D: Jl. Salemba Raya 7/9 A, Jakarta 10340, Indonesia

2LPPM, Universitas Persada Indonesia YAI, Kampus A Jl. Diponegoro 74, Jakarta 10340, Indonesia

E-mail: siti_sudjatini1@yahoo.com;buparsalim@yahoo.com

 

Abstrak

 

Pada  beberapa  kota  yang sedang  berkembang  telah  terjadi kerusakan  lingkungan  hidup, karena  hampir separo  dari penduduk tinggal di perkotaan.  Dengan semakin padatnya  penduduk di kota, sedangkan sumber daya alamnya terbatas dan pengolahannya tidak mempertimbangkan  perencanaan  yang berkelanjutan, akibatnya telah merusak lingkungan kota. Memasuki milenium baru kota-kota di dunia pada  umumnya dan Indonesia pada khususnya menghadapi kompleksitas persoalan komplek yang membutuhkan  pendekatan  baru,  untuk mendekati persoalan urban.  Banyak kota besar  yang mengalami masalah penurunan kualitas lingkungan hidup dan gangguan-gangguan sosial. Beban masalah tersebut berkembang   sejalan  dengan   perkembangan   kota   yang  mengarah   kepada   ketidak  harmonisan  hubungan   antara pertumbuhan  ekonomi dengan lingkungan.  Telah terjadi konversi lahan dari lahan terbuka hijau menjadi lahan terbangun, sehingga   Ruang Terbuka Hijau makin minim. Keadaan perkotaan   memang hanya maju dalam pertumbuhan  fisik, akan tetapi mundur secara ekologi. Seharusnya Perencanaan  kota yang bersifat sustainable salah satunya adalah mempertimbangkan  keberadaan  kuantitas dan kualitas lahan terbangun  dan lahan terbuka. Penataan  ruang kota secara menyeluruh dan terpadu dengan model-model participatory planning dan over the board planning atau perencanaan  lintas sektoral sudah dilakukan secara konsekuen dan berkesinambungan/ berkelanjutan. Kepekaan sosial cultural para penentu kebijakan dan para professional khususnya dibidang tata ruang kota dan lingkungan hidup seyogyanya lebih ditingkatkan melalui  forum-forum  pertemuan/  diskusi/  ceramah/  publikasi,  penataan   dan  pelatihan  baik  secara  formal  maupun informal. Peran serta penduduk dan kemitraan dengan pihak swasta agar lebih digalakan untuk bisa memecahkan masalah tata  ruang  kota  dan  pengelolaan  lingkungan  hidup dengan  prinsip win-win  solution,  tanpa  ada  yang merasa  terlalu dirugikan. Prinsip pembangunan  berkelanjutan yang berwawasan pada kepentingan rakyat agar dijabarkan dalam rencana dan tindakan nyata, tidak sekedar berhenti sebagai slogan semata-mata lingkungan.

 

Keywords: Pembangunan kota yang berkelanjutan, Ruang Terbuka Hijau, Ekonomi Lingkungan, Kemitraan pembangunan

 

Abstract

 

In some cities a growing environmental damage has occurred, since almost half the population lives in urban areas. With increasingly dense  population in the  city, while natural resources  are  limited and  do not  consider the  processing of sustainable planning, the result has been damaging to the environment of the city. Entering the new millennium cities in the  world in  general and  Indonesia in  particular deal with the  complexity of the  complex issues that  require new approaches,  to approach  urban problems. At first the existing infrastructure can still accommodate  the existing rate  of urbanization, but the long run facilities can no longer accommodate  the resulting emergence of a complex issue. One such problem is the  decreasing availability  of open  spaces.  Many large cities are  experiencing problems of environmental degradation and social disturbances. Expenses in line with the growing problem of urban development  that leads to lack harmony with the relations between  economic growth environment. Urban situation is only advanced in physical growth, but retreated in ecology. Such instability is clearly threatening the sustainability of urban economic growth. Planning urban space as a whole and integrated with participatory models of planning and over-the-board  planning or cross-sectoral planning has been done consistently and continually / continuously. Social sensitivity and cultural policy makers, especially professionals in the field of urban planning and the environment should be further enhanced through the forums meetings / discussions / lectures / publications, restructuring and training both formally and informally. Participation of residents and  partnerships with the  private sector  could be  more  major  project  to  solve the  problem of urban  planning and environmental management  with the principle of win-win solution, with no one felt too disadvantaged. Sound principles of sustainable development in the interests of the people that are translated into action plans and tangible, not only to stop as purely environmental slogans

 

Keywords: Sustainable Urban Development, Green Open Space, Economic Environment, Partnership Development

Untuk FullPaper, Bisa Klik Disini

Untuk Penilaian Reviewer, Bisa Klik Disini

Ganti Background